Our blog

27 Feb 2019
by Dewi
Service Level Agreement (SLA)

Service Level Agreement di Perusahaan Telekomunikasi

Jika anda memiliki bisnis di bidang telekomunikasi, medis, real-estate, dan perusahaan yang menyediakan produk dan layanan untuk pelanggan, anda tentu tidak asing dengan Service Level Agreement (SLA). Akan tetapi, untuk lebih spesifik kami akan membahas SLA dalam perusahaan telekomunikasi, terutama penyedia layanan internet (internet service provider).

Kegunaan SLA

SLA adalah persetujuan antara penyedia layanan (service provider) dan klien (pengguna layanan). Persetujuan ini adalah jaminan untuk mengontrol layanan yang disediakan oleh penyedia layanan untuk pelanggan. Dari mulut ke mulut sangat dekat dengan pelanggan, jika pelanggan merasa puas dengan layanan yang diterima, pelanggan tidak akan ragu untuk menyediakan rekomendasi untuk keluarga mereka. Jika pelanggan merasa kecewa dengan layanan yang diterima, pelanggan akan mengatakan ketidakpuasannya dengan penyedia layanan ke semua orang.

Penyedia layanan harus mencoba menemui target sesuai dengan SLA yang ada, ini dapat mempengaruhi citra mere di mata pelanggan. Perusahaan telekomunikasi juga harus menemui ketersediaan tinggi sehingga klien akan sangat terbantu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jika ketersediaan tinggi tidak dapat diraih, klien akan sangat terganggu. Bayangkan jika anda berlangganan internet dan internetnya sering mati. Tentu saja, ini akan sangat mengganggu kegiatan anda.

Kami mengira bahwa salah satu pengguna layanan dari perusahaan telekomunikasi adalah universitas. Ketika universitas sedang melakukan tes secara bersamaan, ada beberapa pertanyaan yang mengharuskan peserta menggunakan fasilitas internet di universitas untuk mengerjakan soal ujian masuk. Tapi di pertengahan ujian, ada gangguan internet lama. Suasana tes kacau dan tidak kondusif karena peserta tidak dapat melanjutkan ujian. Tentu saja, ini merugikan pihak universitas dan mengurangi performa penyedia layanan internet.

Dalam SLA ada kemampuan penyedia layanan untuk dapat memberikan layanan dalam ukuran presentase.  Biasanya, jumlah yang diberikan 96%-99%, jika penyedia layanan tidak dapat memenuhi persetujuan, penyedia layanan harus memberikan restitusi ke pengguna layanan. Restitusi adalah pengembalian dalam bentuk uang atau berdasarkan perjanjian jika perusahaan tidak dapat memenuhi SLA.  Jika SLA perusahaan sebesar 97%, jika ada penurunan 3%, itu akan dianggap normal, tetapi jika ada yang mati diatas 3%, perusahaan perlu memberikan ganti rugi kepada pelanggan.

Pengenalan SLA Monitoring

Penyedia layanan perlu proses panjang dalam membuat laporan mengenai ketersediaan layanan yang disediakan. Hal ini mendorong Ketitik untuk mengembangkan aplikasi jaringan di Indonesia dengan menciptakan SLA monitoring di Indonesia. Memonitor SLA (SLA monitoring) dapat membantu perusahaan telekomunikasi untuk memonitor service availability dan pembuatan laporan.

Perusahaan perlu melihat apakah keluhan tentang kematian jaringan internet yang dimiliki pelanggan benar atau tidak, penyedia layanan dapat menggunakan monitoring application di Indonesia, bernama SLA monitoring. Menggunakan SLA monitoring, perusahaan penyedia layanan akan dengan mudah melihat grafik layanan yang tersedia bagi pelanggan. Pemantauan SLA akan memberikan laporan yang dapat menjadi dasar untuk decision management level.

Sumber: bppk kemenkeu, bambangsuhartono.wordpress.com

Ditulis oleh Febi dan diterjemahkan oleh Dewi

26 Feb 2019
by Dewi

Cerita Tentang Ketitik dari Sumatera

Jarak tidak mencegah Atron untuk berkonsultasi dengan Ketitik untuk menyelesaikan masalah jaringannya. Dimulai dari rekomendasi kolega, Atron, sebuah perusahaan network analytics traffic occupancy di Medan, sangat tertarik dalam membagikan masalah dengan Ketitik. “Pada awalnya Atron tidak mengetahui apa pun mengenai Ketitik, kami tidak pernah mendengarnya,” kata Lydia, CEO Atron. Tetapi, rekomendasi yang diberikan sangat meyakinkkan, yang membuat Atron berpikir tidak ada ruginya untuk mencoba.

Perjalanan Medan-Jakarta diambil oleh Atron untuk berdikusi dan berbagi masalah dengan tim Ketitik. Atron mengalami kesulitan pengelolaan sebanyak 5300 BTS di wilayah Sumatra. Atron bingung tentang bagaimana membuat jaringan stabil dan tidak mudah turun dengan 5.300 BTS. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan kerja sama antara Atron dan Ketitik. Sekarang, Atron dan Ketitik terkait sebagai mitra. Ketitik membantu Atron di tim backend.

Sekarang Atron bisa memperkecil kesalahan manusia dalam laporan data. Hal ini membantu untuk dapat mengambil penggunaan data pelanggan dalam perangkat. Data dapat diproses secara otomatis menurut apa yang Atron inginkan. Jika data diproses dengan tenaga manusia, resiko kesalahan manusia yang didapat lebih besar. Sebagai contohnya, kondisi yang tidak sehat dapat mempengaruhi perhitungan sehingga kesalahan perhitungan dapat terjadi.

Dari akhir Agustus sampai Oktober, sudah ada 1,400 BTS yang dapat log in dan dapat memberikan performa yang stabil. Selain itu, Atron menjadi sadar kapan harus meningkatkan kapasitas perangkat jaringan karena Ketitik membantu melihat ruang yang digunakan.

Atron merasa puas bahwa dapat bekerja sama dengan Ketitik. Ketitik mampu mewujudkan apa yang diinginkan Atron. Selama bekerja sama, Atron dan Ketitik dapat berkomunikasi dengan lancar karena dengan rutin berkomunikasi melalui konferensi video setiap 3 hari sekali. Selain itu, Atron juga dapat mencapai ketersediaan tinggi sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan pada pelanggan.

Cerita Atron, mungkin membuat anda bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Ketitik. Menjual produk atau menjual jasa? Selain memiliki 3 produk yang berhubungan dengan network monitoring application, Ketitik memang bisa menjadi konsultan terkait dengan masalah jaringan. Ketitik menyebut layanan tersebut sebagai managed service atau layanan terkelola.

Tertarik berdiskusi mengenai masalah jaringan atau tertarik dengan alat monitoring (monitoring tool) yang dimiliki Ketitik? Jangan ragu untuk menghubungi Ketitik atau kunjungi website kami untuk mengenal kami lebih lanjut.

Ditulis oleh Febi dan diterjemahkan oleh Dewi

25 Feb 2019
by Dewi

Alat Monitoring Jaringan Populer

Network monitoring application berkembang pesat di seluruh dunia. Perangkat lunak, perangkat, dan utilitas baru dirilis setiap tahun untuk memfasilitasi manajemen jaringan dan infrastruktur IT. Ada banyak Network monitoring tool yang dapat menjadi pilihan network engineer. Pemilihan Network monitoring tool harus disesuaikan dengan kebutuhan. Berikut adalah 3 Network monitoring tool paling populer :

1.   SolarWinds Network Performance Monitor

Menggunakan alat ini, anda dapat menemukan perangkat jaringan secara otomatis dalam waktu singkat. SolarWinds menggunakan antarmuka sederhana. SolarWinds adalah salah satu network monitoring tool termudah dan paling intuitif.

Menggunakan SolarWinds, pengguna dapat kustomisasi sesuai kebutuhan. Pengguna SolarWinds dapat menyesuaikan dashboard berbasis web, grafik dan menampilkan kinerja. Untuk teknisi jaringan atau network administrator tentu saja alat ini akan menyediakan kenyamanan dalam mendesain topology yang kompatibel dengan infrastruktur jaringan.

2.   PRTG Network Monitor dari Paessler

PRTG merupakan sebuah network monitoring application yang dikenal karena kemampuannya yang canggih dalam mengelola insfrastruktur IT. Semua perangkat, sistem, traffic, dan aplikasi dalam jaringan bisa dengan mudah ditampilkan dalam hierarki antarmuka yang sangat mudah digunakan.

PRTG menggunakan teknologi seperti SNMP, WMI, SSH, Flows / Packet Sniffing, HTTP Request, REST API, ping, SQL. Hal ini dapat dikatakan, PRTG network monitoring application adalah pilihan ideal untuk perusahaan yang masih kurang pengalaman dalam network management.

Fitur paling unggul dari PRTG adalah kemampuannya untuk memonitor perangkat ke pusat data yang menggunakan aplikasi seluler. Sebuah QR code yang cocok dengan sensor label cetak akan dipasang ke pangkat fisik. Lalu, untuk memindai kode dan melihat informasi perangkat, gunakan aplikasi seluler dan kemudian ringkasan informasi perangkat akan segera muncul pada layar seluler.

3. Zabbix

Zabbix adalah sebuah network monitoring tool berdasarkan pada antarmuka WEB GUI yang mudah digunakan. Zabbix lebih berfokus pada network monitoring tool untuk memonitor server dan perangkat keras pada jaringan. Salah satu dari fitur andalannya adalah Zabbix dapat memprediksi tren dalam lalu lintas jaringan dan juga dapat memprediksi perilaku jaringan di masa yang akan datang berdasarkan rekaman data historis.

Karena zabbix adalah open source, banyak komunitahs pengguna Zabbix yang tersebar di seluruh dunia dan banyak dokumen atau manual dapat dipelajari. Zabbix masih mencukupi untuk jenis topology jaringan dibawah 1000 node. Lebih dari itu, biasanya performa perangkat lunak ini akan menjadi lebih pelan atau berkurang. Sebagai tambahan, Zabbix tidak memiliki laporan real-time.               

Selain tiga network monitoring tool di atas, masih ada banyak network monitoring yang bisa dijadikan pilihan. Sekarang di Indonesia ada network monitoring tool yang bisa menjadi pilihan perusahaan. Network monitoring tool tersebut adalah NetMonk. Jangan khawatir, NetMonk memiliki beberapa nilai unik yang membuatnya lebih unggul dari monitoring jaringan lainnya. Sudahkah anda memahami kebutuhan perusahaan anda dan menentukan pilihan anda untuk memilih network monitoring tool?

Ditulis oleh Febi dan diterjemahkan oleh Dewi

22 Feb 2019
by Dewi

Linear Regression dalam Network Traffic Forecasting

Network Traffic ForecastingNetwork monitoring tools digunakan untuk membantu manusia untuk memonitor kinerja jaringan. Jaringan butuh dipelihara sehingga performanya terus stabil dan perusahaan bisa terus mencapai ketersediaan tinggi dan bisa terus memuaskan pelanggan. Seperti artikel yang telah didiskusikan. Tanpa bantuan network monitoring, network engineer akan kewalahan untuk memonitor banyak jaringan karena jumlah network engineer masih

Ada banyak Network monitoring tools yang bisa memberikan informasi tentang lalu lintas data perangkat. Perusahaan harus berhati-hati dalam memilih Network monitoring tools karena hal tersebut juga mempengaruhi domain manajerial (managerial domain). Ada satu keunggulan yang dimiliki oleh Indonesian network monitoring tool yang disebut NetMonk. Keunggulan tersebut adalah NetMonk dapat memberikan prediksi ketika jaringan akan mencapai ambang yang mana didukung oleh fitur network traffic forecasting.

Jika perangkat bisa ditebak, dapat dikatakan bahwa sebuah perangkat jaringan akan memiliki peningkatan kinerja sehingga juga dapat mendukung tingkat manajemen kinerja kerja. Network traffic forecasting didukung oleh suatu metode untuk dapat memproses data analitik menjadi informasi yang akurat tentang kondisi perangkat.

Banyak metode traffic forecasting yang digunakan untuk menjalankan network traffic forecasting. Tentu saja, dalam mengembangkan network traffic forecasting, NetMonk mencari metode yang cocok dan dapat diterapkan ke NetMonk. Salah satu metode yang diterapkan di NetMonk untuk memprediksi waktu perangkat untuk mencapai ambang batas adalah metode regresi linier.

NetMonk memanfaatkan lalu lintas keluar dan masuk untuk menampilkan fitur network traffic forecasting pada dashboard. Atau umumnya disebut data upstream dan downstream. Downstream adalah kecepatan aliran data dari komputer lain ke komputer lokal (unduh/download), sedangkan upstream adalah kecepatan aliran data dari komputer lokal ke komputer lain (unggah/upload).

Dalam network traffic forecasting the regression line menjadi patokan dalam pemahaman perilaku data, diambil dari data historis rata-rata yang dibatasi oleh batas data maksimum dan minimum di sekitar rata-rata. Seingga penyajian data network traffic forecasting di NetMonk adalah dalam bentu-bentuk garis yang menunjukkan waktu jaringan mencapai ambang batas. Garis terdiri dari X axis dan Y axis. X-axis adalah data waktu, dan Y-axis merupakan data upstream atau downstream yang mana dibatasi oleh angka ambang batas maksimum. Berdasarkan X axis dan Y axis, anda akan melihat ketika sebuah perangkat mencapai angka ambang batas maksimum.

Menggunakan NetMonk, berarti anda telah menghemat energi dan waktu. Tidak butuh waktu yang lama untuk mengetahui bahwa jaringan anda akan mencapai ambang batas dan anda dapat mengantisipasinya. Temukan nilai unik lain dari NetMonk dalam artikel ini.

Ditulis oleh Febi dan diterjemahkan oleh Dewi

21 Feb 2019
by Dewi

Alat Khusus untuk Memonitor Aktifitas Perangkat Jaringan

Menggunakan analisis pada perangkat jaringan dapat membuat kita mengetahui informasi tentang “siapa, apa dan kenapa” aktif di jaringan. Informasi ini dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja, menjaga keamanan, dan mengelola jaringan secara umum (network management).

Tidak semua analisis pada perangkat jaringan (network devices) memberikan informasi yang cukup dan efektif untuk memecahkan masalah jaringan. Hal ini karena alat untuk membantu analisis lalu lintas jaringan berdasarkan aliran data hanya menyediakan informasi tingkat atas (top-level). Misalnya seperti alamat IP (Internet Protocol) dan volume lalu lintas. Untuk dapat memantau aktifitas dan menganalisis lalu lintas jaringan secara menyeluruh, anda memerlukan alat khusus, termasuk :

1.       SNMP (Simple Network Management Protocol)

Melalui protokol sederhana yang dirancang khusus, pengguna dapat memantau dan mengelola jaringan komputer dari jarak jauh menggunakan pusat kendali. Anda dapat memperoleh data atau informasi perangkat jaringan tentang status dan kondisi dalam jaringan saat menggunakan SNMP.

Protokol ini menggunakan UDP transport, tepatnya pada port 161. Network management dioperasikan dengan mengumpulkan data perangkat jaringan dan menentukan variabel dalam jaringan yang digunakan. Proses pemantauan manajemen jaringan (network management monitoring) dilakukan dari PC yang bertindak sebagai network management station dari agen SNMP.

Selanjutnya, hasil dari pemantauan manajemen jaringan akan ditampilkan dalam bantuk grafis yang menunjukkan fluktuasi lalu lintas atau lalu lintas jaringan. SNMP merupakan mekanisme yang sangat penting dalam network monitoring dan memiliki beberapa komponen yaitu :

  1. Managed devices : Node pada jaringan yang mendukung SNMP dan akses ke informasi tertentu.
  2. Agent : perangkat lunak yang merupakan bagian dari perangkat yang dipantau. Agen memiliki akses ke perangkat MIB (database information management) device dan mengijinkan sistem NMS untuk membaca dan menulis untuk MIB.
  3. Network Management System (NMS) : sebuah aplikasi di sistem yang memonitor dan mengontrol perangkat yang dikelola melalui agen menggunakan perintah SNMP.

2. Web GUI

Web GUI digunakan untuk memonitor dan memonitor tampilan grafik dalam bentuk fluktuasi grafik dan network traffic. Web GUI dapat dengan mudah digunakan karena mudah dibaca dan dipahami karena website-based interface.

Kami tidak perlu mengetik perintah khusus atau sintaksis yang hanya dapat dipahami oleh sejumlah network engineer yang andal, karena website berbasis antarmuka membuat semuanya terlihat lebih mudah untuk digunakan dan dibaca.

3.     Ping

Jika seorang network engineer ingin menguji jangkauan dan ketersediaan host di jaringan IP (Internet Protocol), maka alat yang dapat digunakan adalah Ping.

Melalui salah satu instruksi dasar yang harus dikuasai oleh admin jaringan (network admin), hasil Ping dapat dilihat untuk menentukan apakah host di jaringan aktif atau tidak. Selain itu, Ping dapat digunakan untuk mengukur waktu transmisi dan kehilangan paket saat berkomunikasi dengan host.

4.     Syslog

Syslog berbeda dari Windows Eventlog. Syslog adalah messaging system yang mengijinkan perangkat untuk mengirimkan pemberitahuan acara ke jaringan IP (Internet Protocol). Informasi dari pesan ini dapat digunakan untuk manajemen jaringan dan monitor network security. Syslog dapat mendukung beragam perangkat dimulai dari printer, router, hingga firewall.

5. Utilizing Script Strength

Pada jaringan dimana tidak ada Network Management System (NMS), atau Network Management System (NMS) yang tidak memiliki fitur tertentu, network administrator dapat menggunakan script. Script tersebut dapat memanfaatkan perintah yang biasa digunakan di dunia jaringan IT.

Sebagai contohnya Ping, Lynx, SNMP Walk, dan lainnya. Script didukung oleh hampir elemen-elemen jaringan untuk menjalankan program-program tertentu. Contohnya mengumpulkan informasi, membuat perubahan untuk merancang konfigurasi, atau menampilkan program istimewa yang telah dijadwalkan. Bash scripts, Perl dan lain-lain merupakan alat untuk menulis script yang umumnya digunakan oleh network admin.

Berdasarkan alat khusus ini, TITS menggunakan SNMP dalam aplikasi berbasis web, yaitu network monitoring tool yang disebut NetMonk. Menggunakan SNMP membuat NetMonk dapat menemukan infromasi terbaru tentang kondisi perangkat. Ingin tahu lebih banyak tentang NetMonk? Baca artikel NetMonk.

Ditulis oleh Febi dan diterjemahkan oleh Dewi

19 Feb 2019
by Dewi

Alat Network Monitoring dan Aplikasinya di Perusahaan

Bicara tentang network monitoring tools, kami juga membicarakan tentang perusahaan yang menggunakannya. Network monitoring tools digunakan untuk memelihara stabilitas jaringan, jadi perusahaan dapat mencapai ketersediaan tinggi. NetMonk adalah satu dari network monitoring tools yang dapat membantu perusahaan untuk sadar akan tujuan-tujuan ini. Sebagai sebuah network monitoring tools di Indonesia, NetMonk siap untuk menggantikan kerja manusia dalam memproses data jaringan, jadi NetMonk dapat memberikan informasi lebih komprehensif. Sebagai tambahan, NetMonk memiliki fitur lainnya yang dapat memberikan prediksi dari apa yang akan terjadi terhadap jaringan. Menggunakan NetMonk, network engineer akan mendapatkan informasi ketika perangkat akan mencapai ambang batasnya.

Perusahaan dan Network Monitoring

Perusahaan jenis apa yang sebenarnya bisa menggunakan network monitoring tools? Jawabannya sederhana. Perusahaan yang operasi bisnisnya network dependent dan memiliki banyak cabang perangkat jaringan. Perusahaan yang mengelola jaringan milik pelanggan dan memiliki batasan, network engineer juga membutuhkan network monitoring tools. Tanpa bantuan network monitoring dengan hanya mengandalkan suber daya manusia, perusahaan mengalami kesulitan memonitor jaringannya.

Contohnya adalah perusahaan telekomunikasi. Perusahaan telekomunikasi menyediakan fasilitas untuk komunitas untuk bisa berkomunikasi dan terhubung dengan satu sama lain. Network monitoring in telecommunications company membantu mereka untuk dapat menyediakan layanan penuh untuk pelanggan dan dapat menghubungkan ke kantor-kantor berbeda. Perusahaan yang masuk dalam kategori telekomunikasi adalah ISP (Internet Service Provider), CSP (Cloud Service Provider), Managed Network Service Provider.

ISP adalah sebuah perusahaan service provider (penyedia layanan) yang menyediakan sebuah akses ke media informasi. Salah satu layanan yang ditawarkan oleh ISP adalah sebuah layanan koneksi internet (Internet connection service). Perusahaan ISP membuat komunitas dapat terhubung satu sama lain. CSP (Cloud Service Provider) menyediakan layanana jaringan, infarstruktur, dan bisnis yang menggunakan cloud. Produk CSP dapat diakses oleh perusahaan dan individu menggunakan konektifitas jaringan. Managed Network Service Provider adalah sebuah perusahaan yang menyediakan layanan dalam management dan mendukung performa IT sebuah perusahaan. Dari kategori yang ada, dapat dikatakan bahwa perusahaan penyedia internet, perusahaan telepon seluler, dan perusahaan operator telekomunikasi seluler termasuk dalam kategori perusahaan telekomunikasi.

Kini, Ketitik membantu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk terutama IT Division untuk mengelola jaringan untuk bekerja secara optimal.  PT Telekomunikasi Indonesia Tbk memiliki 7 wilayah di seluruh Indonesia. Ketitik bekerja sama dengan Telkom daerah di Sumatra untuk mengoptimalkan performa dan memonitor perangkat jaringan.

Di satu wilayah, IT division menangani beberapa kantor cabang. Bayangkan jika perusahaan hanya mengandalkan pada sumber daya manusia untuk memonitor puluhan kantor cabang tanpa kesalahan, sumber daya manusia akan kewalahan. Network monitoring memainkan peran dalam menemukan mana jaringan yang berhenti dan mengetahui kapasitas dari ruang yang digunakan dalam jaringan. Gangguan jaringan dapat disimpulkan menggunakan data dalam network monitoring.

Sebagai tambahan untuk perusahaan telekomunikasi, NetMonk juga siap untuk memonitor jaringan bisnis milik perusahaan. Enterprise business adalah sebuah perusahaan komersial, industri, dan invetasi yang juga menggunakan internet untuk menjalankan bisnisnya. NetMonk siap untuk membantu perusahaan mendapatkan penghasilan, penghematan biaya, efesiensi biaya, dan mencapai ketersediaan tinggi. Jika anda memiliki permasalahan jaringan atau membutuhkan network monitoring application di bisnis anda, jangan ragu untuk mengenal NetMonk lebih dalam. Temukan nilai unik tentang NetMonk di NetMonk, Indonesian Network Monitoring Application.

Ditulis oleh Febi dan diterjemahkan oleh Dewi

18 Feb 2019
by Dewi

SNMP, Mekanisme Penting dalam Aplikasi Network Monitoring

Memelihara network performance merupakan suatu hal yang penting untuk dilakukan di sebuah perusahaan sehingga dapat mencapai ketersediaan layanan yang tinggi. Network management dibutuhkan untuk memelihara, mendiagnosis dan mampu menyediakan sebuah laporan lengkap untuk pengambilan keputusan dan rekomendasi perencanaan. Network monitoring tools adalah jawaban sehingga jaringan dapat dipelihara.

Supaya dapat membaca data dalam perangkat milik pengguna,  network monitoring tools butuh sebuah mekanisme seperti sebuah protokol. Kenapa membutuhkan sebuah protokol? Protokol dapat mendefinisikan fungsi dalam sebuah jaringan sehingga dapat mengirimkan pesan, data, dan informasi. Protokol bisa membuat penerima dan pengirim informasi dapat berkomunikasi dengan satu sama lain.

Salah satu protokol yang paling umum digunakan di Indonesia adalah Simple Network Management Protocol (SNMP). Sekitar tahun 1990 SNMP sudah mulai digunakan. Sampai sekarang SNMP menjadi sebuah standar de facto. SNMP mengelola peralatan yang terhubung ke IP (Internet Protocol) seperti switches, routers, and servers.

Kami butuh pemahaman lebih mendalam mengenai SNMP, mengingat SNMP adalah protokol yang paling umum digunakan di Indonesia. Ada dua hak utama dalam network management yang digunakan SNMP, bernama manager dan agent. Manager adalah sebuah tempat untuk administrator untuk mengontrol fungsi network management, sementara agent adalah hal yang terpasang untuk mengelola perangkat.

SNMP hanya memerlukan perangkat lunak kecil pada agent. Sebagai tambahan, SNMP juga menggunakan datagram UDP yang mana memiliki sistem sederhana untuk mengirimkan informasi. SNMP terlihat lebih sederhana karena memiliki perintah manajemen yang terbatas. Entitas manajemen akan mengirimkan sebuah perintah ke Get, GetNex, dan Set untuk mengambil satu variabel atau beberapa objek. Dapat dikatakan bahwa perangkat akan memberikan sebuah pesan jika SNMP mengirimkan sebuah perintah. Ini disebut pull atau tarik.

Disamping SNMP, ada banyak protokol yang dapat digunakan dalam network management. Namun di Indonesia, ada banyak perangkat-perangkat yang tidak mendukung menggunakan protokol selain SNMP. Protokolnya adalah Netflow, Sflow, Jflow. Telah dideskripsikan bahwa SNMP mendapatkan informasi dengan menarik, dalam protokol ini kami akan mendapatkan informasi tanpa bertanya atau memberikan perintah atau called push.

Ketitik adalah sebuah network monitoring application di Indonesia yang menggunakan SNMP untuk network management, karena memang di Indonesia, SNMP banyak digunakan. Tetapi hal ini tidak mengesampingkan kemungkinan, Ketitik mampu untuk me-monitor jaringan dengan protokol selain daripada SNMP sehingga dapat menjadi sebuah network monitoring analytic platform yang up to date dan dapat memelihara performa perangkat anda.

sources: binus.ac.id dan proweb.co.id

Ditulis oleh Febi dan diterjemahkan oleh Dewi

14 Feb 2019
by Dewi

Network Monitoring Analytics Platform Siap menghubungkan Dunia

Sekarang ini, setiap aspek kehidupan membutuhkan sebuah jaringan (network). Tentu saja, pengguna menginginkan sebuah jaringan tanpa gangguan sehingga dapat dengan mudah menghubungkan mereka ke dunia. Jaringan tidak hanya tentang internet tetapi juga perangkat-perangkat (devices) seperti CPU, RAM, storage, mini-PCs. Beberapa masalah dalam jaringan memotifasi Ketitik untuk mengatur teknologi jaringan (network technology) menjadi lebih berguna, jadi Ketitik menyusun network monitoring dan analytics platform.

Apa yang anda bayangkan ketika mendengar ‘Ketitik’? Mungkin anda berfikir bahwa Ketitik berarti kembali ke titik atau perusahaan yang berspesialisasi dalam bidang menulis. Kata Ketitik terinspirasi oleh pepatah Jawa, “Becik Ketitik, Ala Ketara” yang berarti kebaikan akan muncul dan pasti dihargai, dan hal buruk yang tersembunyi akan muncul kemudian. Pepatah ini mengajarkan kami untuk tidak takut melakukan kebaikan, dan ini adalah poin penting bagi Ketitik.

Tim Ketitik tidak takut memulai sesuatu yang baru dan berani menjadi solusi untuk network engineers. Ketitik adalah network monitoring analytics platform yang bersedia mendengarkan keluhan tentang jaringan dan akan menyediakan solusi dengan aplikasi berbasis web (web-base application). Mulanya, Ketitik memiliki ide analytic network untuk Usee TV. Ketitik dapat mengetahui tentang data, perangkat, penggunaan Usee TV, hingga tahap pembuatan profil data pelanggan. Sekarang, ide tersebut sedikit berubah, dan berbeda dari apa yang Ketitik lakukan.

Setelah 1.5 tahun beroperasi, sekarang Ketitik memiliki 3 produk. Produk pertama adalah NetMonk, sebuah network monitoring tools yang membantu network engineers untuk me-monitor companies devices. Produk kedua adalah SLA monitoring yang bertujuan untuk membantu perusahaan memonitor devices link uptime dan mengetahui tautan yang tersedia. Dengan SLA Monitoring, perusahaan dapat memperkecil restitusi mereka. Produk ketiga adalah Node Monitoring, yang dapat digunakan untuk perusahaan memonitor mini PC mereka. Ketitik juga dapat menjadi network consultant untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki masalah jaringan. Selain menyediakan solusi, Ketitik juga mampu mengurus alat-alat (tools) yang bermasalah, sehingga dapat digunakan secara optimal.

Ketitik’s Team

Bermula dari ide Haidlir Naqvi dan Doni Bahtiar di awal tahun 2017 Ketitik dibentuk menjadi sebuah start-up. Di pertengahan tahun 2017, tim Ketitik bertambah satu orang. Sampai tahun ini, Ketitik berkembang menjadi sebuah tim yang bersinergis. Tim Ketitik terdiri dari Doni Imam Bahtiar sebagai CEO, M. Gani Amri sebagai CTO (Chief Technology Officer), Zetil Himah sebagai CMO (Chief Marketing Officer), dan Haidlir Naqvi sebagai COO (Chief Operating Officer).

Sesuai dengan filosofi nama Ketitik, kami mengaplikasikan sebuah sistem kekeluargaan. Setiap anggota tim memiliki kebebasan memberikan opini dan ide. Alur kerja tidak menekan tim, jadi dapat membuat tim Ketitik menyediakan performa terbaik. Tim Ketitik tersebar di beberapa wilayah, tetapi hal tersebut bukanlah sebuah halangan. Tim Ketitik selalu berjuang untuk komunikasi yang baik dengan memanfaatkan fitur telekomunikasi untuk membagikan ide dan kemajuan pekerjaan.

Ketitik menangani beberapa masalah jaringan dengan menjadi konsultan. Hal ini memberikan network monitoring application sebagai solusi untuk lima wilayah dari Telkom IT Division. Telkom IT Division memiliki tujuh wilayah di Indonesia. Wilayah yang belum pernah ditangai oleh Ketitik adalah Jawa Barat (wilayah ketiga) dan Jawa Tengah (wilayah keempat). Mimpi Ketitik belum selesasi di sini, ada beberapa ide yang butuh dikembangkan lagi untuk bisa terhubung ke seluruh dunia. Di masa yang akan datang, Ketitik ingin mengembangkan analytical products, sehingga dapat menjadi referensi untuk pengambilan keputusan perusahaan.

Jangan ragu untuk bertanya tentang jaringan dan perangkat kepada tim kami. Kami akan memberikan performa yang bagus dengan solusi yang akurat dan detil. Temui tim kami di Jakarta Digital Valley, Menara Multimedia lantai 6, Kebon Sirih Jalan No. 12, Gambir, Kota Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 10110, atau kirim pesan ke info@ketitik.com

Ditulis oleh Febi dan diterjemahkan oleh Dewi

24 Jan 2019
by Dewi

Cloud Monitoring VS On-Premise Monitoring, Which is Right For You?

Network monitoring is very important to do if your devices got damage so, you can anticipate it. Networks monitoring is very helpful for network engineers in their work. There are 2 types of network monitoring namely cloud monitoring and on-premise network monitoring software. Cloud monitoring is cloud-based monitoring. Whereas premise monitoring software is software that is installed and operated by customers from server in-house and computing infrastructure. Which one is more efficient in cost? Cloud monitoring or premise monitoring? The following is a further explanation of both.

Cloud Monitoring

Cloud monitoring is a process of monitoring, reviewing and managing the operational processes of cloud-based IT infrastructure. Cloud administrators can switch operational status and use any cloud-based device. Not only that, but cloud monitoring is also very helpful to improve the performance of all infrastructure at a modular level. Network engineers began to switch to On Cloud monitoring because of the practicality. What benefits do you get if you use cloud monitoring? Cloud monitoring provides several benefits including you can access your platform remotely from any device with the availability of navigation, not only that you can also manage your solution more easily, and finally you get the ease and speed of configuring it. However, the disadvantage is that you do not have full ownership of the data that you have.

On-Premise Monitoring

The on-premise software is also called shrink wrap. Unlike cloud monitoring, premise monitoring is customers must provide everything like hardware, server in-house, software license, IT staff, and integration period and is responsible for their security and management. The advantage of compiling using premise monitoring software is that you can control the security data and performance that you can rely on. The disadvantage is that expensive is expensive and impractical.

The differences between the two in term of price is cloud software valued at monthly and annual subscription with an additional cost of support, training, and renewal, while on-premise is valued with a one-time license fee with an additional cost of support, training, and renewal. If you want to see which price is more efficient between cloud monitoring vs premise monitoring, as an illustration, the following is the comparison of license cost from Ketitik and another brand. The number in this diagram is in Rupiahs and this fee does not include indirect costs.

So, to answer the question of which is more efficient between the two is depending on your need. If you need flexible and practical monitoring, cloud monitoring is more efficient. While if you want to buy a server from the vendor or already have a server that is not in use, on-premise can fulfill your need. From the data above, it is clear that the cost of NetMonk from Ketitik is cheaper not only that but also can fulfill your need. So, if you need cloud-based and on-premise monitoring, NetMonk, network monitoring application in Indonesia, will provide the best services as you need.

References :

https://www.helpsystems.com/resourcesarticles/on-premise-vs-cloud-network-monitoring

https://www.technopedia.com/definition/29862/cloud-monitoring

https://www.technopedia.com/definition/26714/on-premise-software

19 Jan 2019
by Dewi

Network Monitoring with Proactive Maintenance

Network monitoring has a function that is very important for network communication that you have. Is it goes down, or other involvement occurs. Network monitoring is very useful for problems if this problem occurs so that it can save time and money. There are now many network monitoring applications or tools that you can get free or paid for. The level is different and the average network monitoring is at a reactive maintenance level and there is also proactive maintenance.

Reactive maintenance also known as breakdown maintenance that repairs the damage is then returned to normal operation by repairing or replacing damaged components and tools. While proactive maintenance, In other words, it can see further if there is damage so that it can take action before this happens. After seeing the explanation above, reactive maintenance and pro-active maintenance have their respective advantages. There are several networks monitoring that are already at the level of reactive maintenance and proactive maintenance. One of the networks proactive maintenance is NetMonk from Ketitik.

NetMonk is a network monitoring from Indonesia that has been proactive. Unlike other network monitoring applications, NetMonk has several features that other applications do not have. These features include NetMonk using notifications from Telegram applications that use far more efficiently and practically than using SMS notifications or emails that are at risk of spam. But NetMonk also uses email as a notification. The dashboard features are also very informative and easy to understand. As in the picture below.

From the picture above, there are several boards such as device status, link utilization, gateway status, CPU, RAM, and storage. Through the board above, and can find out the status that is happening. For example on the status of the board device, information about Up and Down. It is known that the number dropped by 9 and that rose 6. Why on this board there is only a list of devices that just dropped? This is because the devices that come down are more important to be repaired immediately. NetMonk has the filtering feature as above which is very useful for engineers in its use. NetMonk, is network maintenance that can see network traffic information and as the best monitoring tool you can choose. To see first hand how NetMonk works, the network monitoring application in Indonesia, visit our website and see the demo directly.

Reference :

https://www.omega.com/technical-learning/Proactive-Maintenance-vs-Reactive-Maintenance.html